Jumat, 11 November 2016

Tugas UTS Perencanaan Pembelajaran (Dosen: Dr. DIrgantara Wicaksono, M.Pd)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatu..
           
Berawal dari lahir didunia ini, semua yang kulihat adalah semua nikmat, keagunan, kebesarannya.. hanyalah milikNYA. Dilahirkan dari seorang ibu yang sangat kuat, aku tumbuh hingga dewasa. Semua perjalanan hidup kulewati dengan penuh keikhlasan. Dari perceraian orang tua hingga sekarang. Tinggal di kota orang lain bukan hal yang mudah sejak menginjakkan kaki disini semua harus dimulai dari nol. Dimulai dari tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, hingga kebutuhan sehari-hari. Semua benar-benar membuatku belajar tentang perjuangan seorang ibu. Orang sering berkata “bekerjalah untuk hasil dikemudian hari” tapi.. pada saat itu, untuk aku dan keluarga “bekerja hari ini untuk hasil nanti malam”. Semua dilewati bersama-sama dengan keluarga hingga secara perlahan mulai berjalan stabil, seperti ibu dapat bekerja menjalani profesinya kembali dan hingga saat ini Alhamdulillah.. aku sudah memiliki tempat tinggal secara permanen.
           
Singkat cerita, berbicara tentang pendidikan, sekarang saya berkuliah mengambil jurusan PGSD, sebenarnya dulu ketika ingin masuk perkuliahan saya kurang berminat untuk masuk kejurusan ini karena ini adalah saran dari ibu. Tapi, karena ibu saya menginginkan saya untuk masuk dijurusan tersebut maka saya turuti. Pada saat itu saya hanya mengikuti saran dari orang tua saya dan berkata “bismillah., semoga ini yang terbaik untukku dan dapat bermanfaat dikemudian hari”. Sekarang saya sudah menginjak semester5 dan sekarang saya tau jawaban kenapa ibu saya menginginkan saya untuk masuk dijurusan ini, ternyata menjadi seorang guru itu tidak mudah dan begitu banyak manfaatnya, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi termasuk orang-orang yang diajari.

           
Sekarang saya masih berjuang, dan kedepannya saya ingin menjadi seorang yang berarti, bermanfaat bagi orang lain dan yang lebih penting saya ingin menjadi ibu seperti ibu saya yang berjuang untuk anak-anaknya.

Andi Sastri Aisyah Abbas
FIP PGSD Universitas Muhammadiya Jakarta Kampus D Bekasi

Kamis, 10 November 2016

Tugas UTS Perencanaan Pembelajaran (Dosen: Dr. Dirgantara Wicaksono M.Pd)

PERBANDINGAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN ANTARA KTSP dengan KURTILAS


Perbedaan mendasar KTSP dan Kurikulum 2013,- Perbedaan pokok antara KTSP atau kurikulum tingkat satuan pendidikan (Kurikulum 2006) yang selama ini diterapkan dengan Kurikulum 2013 yang akan dijalankan sebagai bentuk sosialisasi mulai Juli 2013 yaitu berkaitan dengan perencanaan pembelajaran. Pada KTSP, proses pengembangan silabus adalah kewenangan satuan pendidikan tingkat sekolah, namun dalam Kurikulum 2013 kegiatan pengembangan silabus beralih menjadi kewenangan pemerintah, kecuali untuk mata pelajaran tertentu yang secara khusus dikembangkan di satuan pendidikan yang bersangkutan.

Namun di balik perbedaan yang ada, sebenarnya juga terdapat kesamaan esensi antara Kurikulum 2013 dengan KTSP. Misalnya tentang pendekatan ilmiah (Scientific Approach) yang pada hakikatnya adalah pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP).  Masalah pendekatan sebenarnya bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.

Adapun penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran masih merupakan kewenangan guru yang bersangkutan, yaitu dengan berusaha mengembangkan dari Buku Babon (termasuk silabus) yang telah disiapkan pemerintah.


PERBANDINGAN KURIKULUM 2006 DENGAN KURIKULUM 2013
NO
PERBEDAAN
KURIKULUM 2006
KURIKULUM 2013
1
Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. 


1.       Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2.      Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3.      Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
4.      KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) disusun dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomer 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Pendidikan dasar dan menengah, dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang:


1.      beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur;
2.      berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif;
3.      sehat, mandiri, dan percaya diri; dan
4.      toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggung jawab.



2.
Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut.


  1. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia 
  2. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
  3. Kelompok mata pelajaran  ilmu pengetahuan dan teknologi
  4. Kelompok mata pelajaran estetika
  5. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Ditinjau dari manajemen sekolah, maka KTSP pada dasarnya merupakan bentuk perencanaan satuan pendidikan pada bidang intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler untuk mencapai visi, misi, dan tujuannya.  
Dokumen KTSP pada jenjang pendidikan dasar dan menengahsetidak-tidaknya meliputi:


1.      Kurikulum nasionalyang terdiri dari Rasional, Kerangka Dasar Kurikulum, Struktur Kurikulum, Deskripsi Matapelajaran, KI dan KD, dan Silabus untuk satuan pendidikan terkait.
2.      Kurda yang terdiri dari KD dan Silabus  yang dikembangkan oleh daerah yang bersangkutan, dengan acuan KI yang dikembangkan pada kurikulum nasional
3.      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
4.      Kegiatan kurikuler (intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler)
5.      Kalender Pendidikan.

3.
Sistem yang digunakan
Dalam kurikulum 2006 yang digunakan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar
Berbasis mata pelajaran, masing-masing disiplin ilmu dibahas atau dikelompokkan dalam satu mata pelajaran.
Dalam kurikulum 2013 yang digunakan  Kompetensi Inti (KI)
Berbasis tematik, sehingga dalam pembelajaran yang digunakan adalah tema-tema yang menjadi acuan atau bahan ajar.
4.
Silabus yang digunakan
Silabus yang digunakan adalah silabus yang dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan yang berdasarkan silabus nasional.
Silabus yang digunakan adalah silabus dari pusat, sehingga seluruh indonesia menggunakan silabus yang sama.
6
Mata pelajaran pancasila
Dalam kurikulum 2006, mata pelajaran pendidikan pancasila ditiadakan dan diganti dengan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. 

Dalam kurikulum 2013, mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dirubah menjadi pendidikan pancasila dan kewarganegaraan.
5
Implementasi kurikulum

Dalam kurikulum 2006, sistem yang digunakan adalah penjurusan. 
Dalam kurikulum 2013, sistem yang digunakan adalah peminatan. 

7
Beban belajar siswa
Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran yang terlalu kompleks melebihi kemampuan siswa.
Beban belajar siswa lebih sedikit dan disesuaikan dengan kemampuan siswa
8
Proses penilaian
Berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output
Berbasis kemampuan
melalui penilaian proses dan output
10
Penilaian
Menekankan aspek kognitif
Test menjadi cara penilaian yang dominan
Menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik secara proporsional Penilaian test dan portofolio saling melengkapi
11
Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Memenuhi kompetensi profesi saja Fokus pada ukuran kinerja PTK
Memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal motivasi mengajar
12
Pengelolaan Kurikulum
  1. Satuan pendidikan mempunyai kebebasan dalam pengelolaan kurikulum
  2. Terdapat kecenderungan satuan pendidikan menyusun kurikulum tanpa mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah
  3. Pemerintah hanya menyiapkan sampai standar isi mata pelajaran (Satuan pendidikan mempunyai kebebasan dalam pengelolaan kurikulum)

  1. Pemerintah Pusat dan Daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan
  2. Satuan pendidikan mampumenyusun kurikulum dengan mempertimbangkan kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah 
  3. (Pemerintah Pusat dan Daerah memiliki kendali kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan)



Secara keseluruhan, bisa dikatakan bahwa konsep yang dijelaskan dalam kurikulum 2013 lebih baik dan lebih terarah dibandingkan kurikulum 2006. Hal ini dikarenakan dalam kurikulum 2013, guru dituntut untuk tidak hanya sekedar menyampaikan materi namun juga mengajarkan nilai- nilai positif untuk membangun karakter peserta didik dimana dalam hal ini masing – masing sekolah diperkenankan menyusun sesuai dengan kemampuan peserta didik dan mengacu pada Visi dan Misi sekolah masing - masing. Kurikulum 2006 belum mampu menggambarkan sikap – sikap  yang harus dikembangkan untuk peserta didik, karena kompetensi yang dibutuhkan untuk pengembangan karakter tidak terakomodasi di dalamnya dan dimana hal ini belum mampu terspesifikasikan dimana masing – masing kemampuan sekolah yang berbeda. Kurikulum 2013 lebih peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal, nasional maupun global. Walaupun lebih baik karena sudah menekankan terhadap pengembangan karakter, namun kurikulum 2013 ini tetap harus dikaji dan di evaluasi secara komprehensif dimana segala kekurangan dan kelebihan harus terakomodir sehingga dapat memaksimalkan sosialisasi kurikulum. Kurikulum ini belum bisa langsung diterapkan karena dibutuhkan persiapan yang matang untuk didapat diperoleh hasil yang diinginkan. Pemerintah perlu memperhatikan lagi KI dan KD sehingga dapat ditafsirkan secara jelas oleh para pelaksana pendidikan. Kesiapan perangkat pembelajaran dan sosialisasi sangat diperlukan. Pemerintah juga perlu memperhatikan kemampuan guru secara umum dalam menjabarkan kurikulum yang ada. Sehingga dalam hal ini pendidik dan tenaga kependidikan harus memenuhi kompetensi profesi, pedagogi, sosial, dan personal motivasi mengajar.

Rabu, 09 November 2016

Tugas UTS Perencanaan Pembelajaran (Dosen: Dr. Dirgantara Wicaksono, M.Pd)

ARTIKEL ILMIAH TENTANG PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Andi Sastri Aisyah Abbas
FIP PGSD, Universitas Muhammdiyah Jakarta Kampus D Bekasi
(andisastri5@gmail.com)


Abstract
The learning model is a set of strategies to strive for educational purposes can be achieved in accordance with the wishes of the expected. each learning models developed by experts and education observers, various types, specific, and of the various models that will certainly affect the development of education of primary school children. Some of the learning model used by the teacher, is a learning model Gerlach and Ely. This model is widely used and applied to all levels of education including college level to level. Thus, the expected development of children's learning in primary school can normally grow quickly without any obstacles.
Kata Kunci: aktivitas siswa, hasil belajar, model desain pembelajar gerlach and ely

A.       Pendahuluan
Desain pembelajaran merupakan prinsip-prinsip penerjemahan dari pembelajaran dan instruksi ke dalam rencana-rencana untuk bahan-bahan dan aktivitas-aktivitas instruksional. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa disain pembelajaran dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berisi banyak komponen yang saling berinteraksi. Komponen-komponen tersebut harus dikembangkan dan diimplementasikan untuk kelengkapan suatu instruksional. Sistem pengembangan instruksional sering kali direpresentasikan sebagai model grafik. Beberapa tahun terakhir sejumlah model disain pembelajaran diperkenalkan oleh beberapa ahli/tokoh. Gentry mengatakan bahwa model disain pembelajaran adalah suatu representatif gafik tentang suatu pendekatan sistem, yang dirancang untuk memfasilitasi pengembangan yang efektif dan efisien dari pembelajaran. Tujuan dari disain pembelajaran yaitu membuat pembelajaran lebih efektif dan efisien dan mengurangi tingkat kesulitan pembelajaran.

B.       Metode Penelitian
Jenis penelitian yang telah dilakukan merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan secara kolaborasi antara guru matematika dan peneliti. Karakteristik PTK secara garis besar, yaitu a) mengkaji permasalahan situasional dan kontekstual, b) adanya tindakan, c) adanya evaluasi terdapat tindakan, d) pengkajian terhadap tindakan, e) adanya kerjasama, dan f) adanya refleksi (Sutama, 2010 : 18). Langkah - langkah penelitian ini terdiri dari a) perencanaan tindakan, b) pelaksanaan tindakan, c) pengamatan, dan d) refleksi.
Pada tahap perencanaan, melibatkan guru matematika dengan memadukan hasil observasi yang dipakai sebagai data awal kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan tindakan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Gerlach dan Ely. Pelaksanaan penelitian ini mulai tanggal 1 September 2016 sampai dengan 1 September 2016. Subjek penelitian berjumlah 32 siswa, yang terdiri dari 19 siswa laki – laki dan 13 siswa perempuan.
Dalam pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu : 1) metode tes digunakan mengetahui tingkat kemampuan spasial siswa melalui model pembelajaran Gerlach dan Ely berupa soal evaluasi (praktik dan tertulis) yang diberikan oleh guru berupa soal uraian untuk dikerjakan siswa secara individu diakhir proses pembelajaran, 2) metode observasi untuk mengamati secara langsung dengan teliti tentang kemampuan spasial dengan menerapkan model pembelajaran Gerlach dan Ely, 3) catatan lapangan digunakan untuk mencatat kejadian – kejadian yang penting dalam suatu proses pembelajaran yang diperoleh peneliti yang digunakan sebagai sumber data, 4) dokumentasi berupa RPP, daftar nama siswa, pedoman observasi, catatan lapangan, lembar tanggapan guru setelah penelitian serta foto setiap pelaksanaan tindakan.

C.       Pembahasan
Model Gerlach & Elly (1971) merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan pembelajaran karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar.
Model pembelajaran Gerlach dan Ely merupakan suatu metode perencanaan pengajaran yang sistematis. Model ini menjadi suatu garis pedoman atau suatu peta pembelajaran karena dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan secara rinci setiap komponennya. Dalam model ini juga diperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan dalam suatu rencana untuk mengajar. Model yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely (1971) dimaksudkan sebagai pedoman perencanaan mengajar. Pengembangan sistem instruksional menurut model ini melibatkan sepuluh unsur seperti dibawah ini :
Hasil gambar untuk bagan model pembelajaran gerlach dan ely

Rincian komponennya adalah sebagai berikut:
1.    Merumuskan Tujuan Pembelajaran (Specification of Object)
Tujuan pembelajaran merupakan suatu target yang ingin di capai dalam kegiatan pembelajaran. Dalam tujuan pembelajaran merumuskan kemampuan apa yang harus dimiliki siswa pada tingkat jenjang belajar tertentu, sehingga setelah selesai pokok bahasan tertentu siswa dapat memiliki kemampuan yang telah ditentukan sebelumnya. Tujuan harus bersifat jelas (tidak abstrak dan tidak terlalu luas) dan operasional agar mudah diukur dan dinilai. Berikut petunjuk praktis merumuskan tujuan pembelajaran:
a.    Audience
b.    Behavior
c.    Condition
d.    Degree
2.    Menentukan Isi Materi (Specification of Content)
Bahan atau materi pada dasarnya adalah “isi” dari kurikulum yakni berupa mata pelajarn atau bidang studi topik/sub topik dan rinciannya. Isi materi harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pemilihan materi haruslah spesifik agar lebih mudah membatasi ruang lingkupnya dan lebih jelas dan mudah dibandingkan dan dipisahkan dengan pokok bahasan lainnya.
3.    Penilaian Kemampuan Awal Siswa (Assesment of Entering Bahaviors)
Kemampuan awal siswa ditentukan dengan memberikan tes awal (pretest). Mengetahui kemampuan awal ini penting bagi pengajar agar dapat memberikan dosis pelajaran yang tepat, tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Pengetahuan tentang kemampuan awal juga berguna untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan, misalnya apakah perlu dipersiapkan pembelajaran atau penggunaan metode tertentu. Tes awal dapat dilakukan dengan 2 cara:
a.    Pretest
dilakukan untuk mengetahui student achievement, yaitu apa yang sudah diketahui dan apa yang belum diketahui tentang rencana pokok bahasan yang akan diajarkan.
b.    Mengumpulkan data pribadi siswa (personal data)
untuk mengukur potensi siswa dan mengelompokkannya ke dalam kategori siswa yang termasuk fast learners dan siswa yang termasuk slow learners.
4.    Menentukan Strategi (Determination of Strategy)
Strategi pembelajaran merupakan pendekatan yang dipakai pengajar dalam memanipulasi informasi, memilih sumber-sumber dan menentukan tugas/evaluasi dalam kegiatan balajar mengajar. Dalam tahap ini pengajar harus menentukan cara untuk dapat mencapai tujuan instruksional dengan sebaik-baiknya. Menurut gerlach & elly ada 2 bentuk pendekatan, yaitu:
a.    Bentuk Ekspose (expository) yang lazim dipergunakan dalam belajar tradisional, biasanya lebih bersifat komunikasi satu arah
b.    Bentuk Penggalian (inquiry), yang lebih mengutamakan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar. Dalam pengertian pembelajaran yang sempit, metode ini merupakan rencana yang sistematis untuk menyajikan pesan atau informasi pembelajaran.
5.    Pengelompokkan Belajar (Organization of Groups)
Setelah menentukan strategi, pengajar harus mulai merencanakan bagaimana kelompok belajar akan diatur. Pendekatan yang menghendaki kegiatan belajar secara mandiri dan bebas (independent study) memerlukan pengorganisasian yang berbeda dengan pendekatan yang memerlukan banyak diskusi dan partisipasi aktif siswa dalam ruang yang kecil, atau untuk mendengarkan ceramah dalam ruang yang luas. Beberapa pengelompokkan siswa diantaranya;
a.    Berdasarkan jumlah siswa (grouping by size), yaitu belajar mandiri, kelompok kecil, dan kelompok besar.
b.    Pengelompokkan campuran (ungraded grouping), yaitu pengelompokan yang tidak memandang kelas (tingkat) maupun usia, tetapi mereka mempunyai tingkat pengetahuan yang sama dalam satu mata pelajaran.
c.    Gabungan beberapa kelas (multiclass grouping), yaitu gabungan dari beberapa kelas yang sama dalam satu ruangan besar, dan mendapat pelajaran dengan bermacam-macam kegiatan pada saat yang bersamaan.
d.    Sekolah dalam sekolah (schools within schools), yaitu satu kompleks yang besar yang terdiri dari beberapa gedung sekolah. Pengelompokan ini berdasarkan kemampuan dan hasil-hasil yang dicapai oleh siswa.
e.    Taman kependidikan (educational park), yaitu kampus yang terdiri atas TK sampai perguruan tinggi dengan pemusatan sarana, pelayanan dan informasi.
6.    Pembagian waktu (Allocation of Time)
Pemilihan strategi dan teknik untuk ukuran kelompok yang berbeda-beda tersebut mau tidak mau akan memaksa pengajar memikirkan penggunaan waktu, yaitu apakah sebagian besar waktunya harus dialokasikan untuk presentasi atau pemberian informasi, untuk praktik laboratorium secara individual, atau untuk diskusi. Rencana penggunaan waktu akan berbeda berdasarkan pokok permasalahan, tujuan-tujuan yang dirumuskan, ruangan yang tersedia, pola-pola administrasi serta kegunaan dan minat-minat para siswa.
7.    Menentukan ruangan (Allocation of Space)
Alokasi ruang ditentukan dengan menjawab apa tujuan belajar dapat dipakai secara lebih efektif dengan belajar secara mandiri dan bebas, berinteraksi antarsiswa atau mendengarkan penjelasan dan bertatap muka dengan pengajar. Ada tiga alternatif ruangan belajar agar proses belajar mengajar dapat terkondisikan yaitu;
a.    Ruangan-ruangan kelompok besar
b.    Ruangan-ruangan kelompok kecil
c.    Ruangan untuk belajar mandiri
8.    Memilih media (Allocation of Resources)
Pemilihan media ditentukan menurut tanggapan siswa yang disepakati, sehingga fungsinya tidak hanya sebagai stimulus rangsangan belajar siswa semata. Gerlach & Elly membagi media sebagai sumber belajar kedalam 5 kategori;
a.    Manusia dan benda nyata
b.    Media visual proyeksi
c.    Media audio
d.    Media cetak
e.    Media display
9.    Evaluasi hasil belajar (Evaluation of Performance)
Semua kegiatan pembelajaran dikatakan berhasil atau tidak setelah tingkah laku akhir belajar tersebut dievaluasi. Dalam tahap evaluasi, yang dilihat bukan hanya hasil belajar siswa, melainkan juga keseluruhan sistem pembelajaran.
10.                        Menganalisi umpan balik (Analysis of Feed Back)
Data dari analisis umpan balik yang diperoleh dari evaluasi, tes maupun tanggapan-tanggapan tentang kegiatan pembelajaran ini menentukan apakah sistem, metode maupun media yang dipakai dalam pembelajaran tersebut sudah sesuai untuk tujuan yang dicapai atau masih perlu untuk disempurnakan. Sehingga untuk kedepannya dapat diperbaiki agar proses pembelajaran benar-benar berhasil.
Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran Gerlach dan Ely adalah sebagai berikut:
1.    Merumuskan Tujuan Pembelajaran (Specification of Objectives)
Pada tahap ini, penentuan tujuan pembelajaran sangat penting dan harus bersifat jelas atau tidak terlalu luas dan mudah diukur. hal ini bertujuan agar pencapaian dalam kegiatan belajar mengajar menjadi terarah.
2.    Menentukan Isi Materi (Specification of Content)
Pada tahap ini, isi bahan ajar harus relevan dengan tujuan perumusan pembelajaran yang terurai pada tahap pertama.
3.    Penilaian Kemampuan pada Tingkat Awal Siswa (Assessment of Entering Behaviors)
Penilaian awal pada siswa ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan yang dimiliki siswa dan mempertimbangkan pemberian materi yang terlalu tinggi serta pemberian porsi materi yang berlebihan. sehingga dengan mengetahui tingkat kemampuan siswa pada awal pelajaran, maka guru dapat mengetahui potensi siswa yang dihadapinya. penilaian pada tahap ini dapat berupa pretest dan portofolio siswa.
4.    Menentukan Strategi (Determination  of Strategy)
Tahap ini, guru mengatur cara penyampaian materi yang akan diberikan kepada siswa. banyak cara/strategi yang dapat dilakukan. misalnya dengan menggunakan ceramah, tanya jawab, diskusi, atau dengan cara demonstrasi.
5.    Pengelompokan belajar (Organization of Groups)
Setelah strategi sudah disusun, langkah berikutnya adalah guru mulai merencanakan bagaimana pengaturan pada pengelompokan belajar. dalam hal ini, guru hanya membagi siswa dalam ke beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa yang ada.
6.    Pembagian Waktu (Allocation of Time)
guru dapat mengatur kegiatannya dalam pembelajaran. yang perlu diperhatikan, waktu untuk materi diharapkan lebih banyak dari pada pemberian waktu untuk kegiatan yang lain.
7.    Menentukan Ruangan (Allocation of Space)
Guru dapat mengatur sesuai dengan tingkat kebutuhan pada proses pembelajaran.  
8.    Memilih Media (Allocation of Resources)
Peran media dalam pembelajaran untuk membangkitkan minat belajar siswa perlu disiasati. banyak media yang dapat digunkan sebagai stimulus, yaitu bisa berupa benda nyata, media visual proyeksi, media audio, media cetak, gambar dan lain sebagainya.
9.    Evaluasi Hasil Belajar (Evaluation of Permance)
Evaluasi ini dilakukan untuk memperoleh dan mengukur serta untuk mengetahui tingkat pencapaian siswa dari hasil kegiatan belajarnya.  
10.                        Menganalisis Umpan Balik (Analysis of Feedback)
Pada tahap ini, peninjauan kembali atas kegiatan yang telah dilakukan perlu dilakukan perbaikan atau tidak, merupakan sebuah umpan balik dalam upaya untuk mengetahui penggunaan model ini. tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dapat tercapai atau tidak, maka perlu umpan balik sebagai analisis selanjutnya.  
Adapun kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran gerlach and elly adalah sebagai berikut:
1.    Kelebihan:
a.    Sangat teliti dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran.
b.    Cocok digunakan untuk segala kalangan.
2.    Kekurangan:
a.       Terlalu panjangnya prosedur perancangan desain pembelajaran.
b.      Tidak adanya tahapan pengenalan karakteristik siswa.

D.       Kesimpulan
Model pembelajaran merupakan suatu cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Ada beberapa model pembelajaran yang digunakan, salah satunya adalah model pembelajaran yang cocok digunakan yaitu Gerlach dan Ely (1971). Gerlach dan Ely mendesaian sebuah model pembelajaran yang cocok digunakan untuk segala kalangan termasuk untuk pendidikan tingkat tinggi, karena di dalamnya terdapat penentuan strategi yang cocok digunakan oleh peserta didik dalam menerima materi yang akan disampaikan. Di samping itu, model Gerlach dan Ely menetapkan pemakaian produk teknologi pendidikan sebagai media dalam menyampaikan materi.
Model ini merupakan suatu upaya untuk menggambarkan secara grafis, suatu metode perencanaan pembelajaran yang sistematis. Model ini merupakan suatu garis pedoman atau suatu peta perjalanan dan hendaknya digunakan sebagai checklist dalam membuat sebuah rencana untuk kegiatan pembelajaran. Dalam model ini diperlihatkan keseluruhan proses belajar-mengajar yang baik, sekalipun tidak menggambarkan perincian setiap komponen. Model ini memperlihatkan hubungan antara elemen yang satu dengan yang lainnya serta menyajikan suatu pola urutan yang dapat dikembangkan ke dalam suatu rencana untuk kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran Gerlach dan Ely dikembangkan berdasarkan sepuluh unsur yaitu :
1.    Spesifikasi isi pokok bahasan
2.    Spesifikasi tujuan pembelajaran.
3.    Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa.
4.    Penentuan cara pendekatan, metode, dan teknik mengajar.
5.    Pengelompokan siswa.
6.    Penyediaan waktu.
7.    Pengaturan ruangan.
8.    Pemilihan media/sumber belajar.
9.    Evaluasi
10.    Analisis umpan balik.


DAFTAR PUSTAKA
https://ajizsulaeman.files.wordpress.com/2016/04/2-makalah-kelompok-model-model-pembelajaran-ap-1-2-unpak.pdf
http://eprints.ums.ac.id/23447/13/NASKAH_PUBLIKASI.pdf
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=289075&val=7239&title=MODEL%20DESAIN%20PEMBELAJARAN%20GERLACH%20AND%20ELY%20UNTUK%20MENINGKATKAN%20AKTIVITAS%20DAN%20HASIL%20BELAJAR

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196209061986011-AHMAD_MULYADIPRANA/POWER_POINT/MODEL_PEMBELAJARAN_GERLACH_%26_ELLY_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf



Andi Sastri Aisyah Abbas
Universitas Muhammadiyah Jakarta Kampus D Bekasi, FIP PGSD 5